Yang Meleleh Karena Cinta(Oleh-Oleh MUSWIL KAPMI DKI)

Diposting oleh KAPMI Daerah Jakarta Selatan | 08.19 | , | 0 komentar »

Oleh : Muhammad Rizal Durizki
“Hidup selalu mempunyai pilihan, dan setiap pilihan mempunyai konsekuensi”


Alhamdulillah musyawarah Wilayah KAPMI DKI jakarta angkatan 10 telah selesai diadakan 21-22 Agustus 2010, dan laporan pertanggung jawaban pun selesai dilalui. Ya, sebuah pertanggung jawaban satu tahun perjalanan kepengurusan yang meski naif harus ku akui telah tercatat di relung-relung hati. ya, sebuah pertanggung jawaban satu tahun yang berhasil dilaksanakan dihadapan manusia.....yang suatu saat nanti akan dipertanggung jawabkan oleh yang Maha tahu, sang penguasa hari pembalasan.Dari setiap program, kata sampai.....isi hati (yang kuat maupun rapuh ingin jatuh dan gugur). disaat malam muswil ada amarah yang keluar karena alasan duniawi : “kelelahan dan kejenuhan”. Aku mengakui inilah pertanggung jawaban dunia yang bisa diselingi dengan apologi-apologi : karena kesalahan ini kesalah itu, karena faktor ini karena faktor itu, dan sebagainya. Tapi, mana mungkin apologi-apologi itu akan kita keluarkan jika Allah yang kita hadapi? (Astaghfirullahal’adzim) terlepas dari itu semua, Alahamdulillah banyak oleh-oleh bisa saya bawa pulang. Oleh-oleh termahal yang selalu saya kenang adalah air mata yang menetes dari kedua kelopak mata mas’ul dan mas’ulah KAPMI DKI angkatan11. Saya kira oleh-oleh itu teramat mahal karena untuk meneteskan memerlukan waktu dan pergelutan tarbiyah yang panjang. Itulah air mata yang melelh karena Allah, dakwah, dan ukhwah.




Yaitu ketika akhina Zia Al-Banna menahan suara dengan isaknya saat menyampaikan sambutan sebagai Ktua KAPMI DKI yang baru “sebetulnya ana kesini bukan untuk ini melainkan untuk pertanggunjaban KAPMI DKI, tapi hasil musyawarah hari ini memutuskan ana memegang amanah berat ini sebetulnya bukan kalian berkehendak melainkan Allah yang berupaya memilih ana, walaupun berat ana tau bahwa perjalanan ini masih panjang”katanya. dan tangisan seorang mus’uliah yang baru “Do’a kan saya dapat mengemban amanah dakwah ini.” MasyaAllah. Bukan berlomba dengan kekuasaan dan harta tetapi lomba saling berkorban dan mengemban beban amanah. “ aktivis dakwah bukanlah robot bukan pula manusia yang merobot yang ketika diberikan beban berat tinggal diprogram tanpa rasa ataupun perasaan, namun jalan ini yang menempa mereka untuk mengungkapkan rasa dalam bentuk yang lain yaitu ketegaran dan ke ta’atan pada Rabb-nya”kata-kata senior ku yang ku ingat. ya ternyata saya sendiri masih harus banyak belajar kepada mereka tentang jalan dakwah,tentang amanah, keto’atan,kejujuran.

Lalu, berkumandanglah lantunan ayat suci Al-Qura’an sebagai penutup acara. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atu terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di jalan kitab. Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan diapakah yang menempati janjinya selain dari Allah?Maka bergemberilah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. AT-Taubah:111)

Kembali air mata itu tumpah dengan do’a-do’a yang disenandungkan salah satu majelis Syuro. dan tak terasa beberapa pasang mata lain ikut terbasahi. Dan air mata itu menetes membanjiri hati orang-orang mulia yang selalu mencintai-Nya dan dicintai-Nya.

Bagai adegan Rasululloh, Abu Bakar, dan Umar bin Khatab menurut ku. Tidak bermaksud berlebihan, namun demikian Saya mengingatnya. Saat Umar datang ke kemah Rasululloh dan mendapati beliau sedang menangis. Abu Bakar yang berada di sampingnya juga telah menangis. “Mengapa engkau menangis, ya Rasululloh? Mengapa engkau menangis, ya Abu Bakar?ceritakan kepadaku kenapa engkau menangis. Kalau aku diberitahu niscaya aku akan menangis, sekiranya aku pun tidak perlu menangis, maka aku akan tetap menangis bersama tangis mu.” jawab Rasululloh, “Aku menangisi kawan-kawan mu yang mengusulkan supaya tawanan itu menebus diri(dengan harta). Tuhan telah mengancam mereka dengan siksaan-Nya lebih dekat dari pohon ini”(seprti itu yang ku ingat kisahnya).


Itulah lelehan air mata yang turun karena cinta pada Allah. Apa yang lebih puitis dari menangis karena Allah dan perjuangan dakwah? saat menggores ini pun air mata saya turut menetes, muahasabah satu tahun yang lebih banyak mengecewakan. Sampai akhir masih ada emosi yang berlebihan,tentang egoisme diri...tapi bersyukur Alhamdulillah ya Rabb ternyata Ukhwah bukan hanya milik Muhajirin dan Anshor dan ibroh yang saya ambil selama satu tahun ini

0 komentar

Posting Komentar