CERPEN : PELANGI SYURGA (BAGAIMANA KAPMI MENGAJARKAN UKHUWAH)

Diposting oleh KAPMI Daerah Jakarta Selatan | 15.46 | , | 0 komentar »

“Besok panitia kumpul jam lima, tempat STM Pembangunan. Jarkom” sms seorang teman.
Hari itu, kami janjian di STM Pembangunan. Basecamp kegiatan anak KAPMI. Sore itu sekolah rame pelajar pulang sekolah. Aku segera menuju masjid. Sekitar dua – tiga orang pengurus sudah datang. “Kita jadi rapat bos” ujar seorang teman.
“Jadilah, ente tenang aja. Ntar juga pada dateng kok teman – teman” jawabku singkat.
Detik jam terus berlalu, sekolah sudah mulai sepi. Hanya terlihat mobil parkir depan ruangan. Mungkin mobil guru atau kepalah sekolah.
Tak berapa lama, peserta rapat berdatanga. Mulai tuh adegan cipika cipiki khas anak KAPMI (hehehe)
Rapat dimulai, MC membuka rapat. Dilanjutkan pembacaan tilawah. Langsung masuk agenda inti, persiapan acara Seminar Program Pelajar Masa Depan besok.
Rapat menghasilkan keputusan ikhwan mabit, sedangkan akhwat pulang. Ikhwan mendapat tugas menyiapkan tempat acara. Pembuatan master spanduk tempel dan menata ruangan. Akhwat bantu menata ruangan dan menyiapkan konsumsi untuk mabit dan esok hari.
Rapat berlangsung sebentar. Selesai rapat, ikhwan segera menuju tempat acara. Perjalanan memakan waktu sepuluh menit.
Pintu ruangan dibuka, sebuah ruangan luas terhampar. Masih kotor dan perlu dibereskan kembali. Teman – teman KAPMI mulai bekerja. Bangku ditata, lantai disapu dan meja pembicara dibereskan. Sebagian sibuk menyiapkan spanduk tempel. Akhwatnya tak kalah sigap. Mereka sudah membeli peralatan kain, lem dan gunting untuk pengerjaan spanduk. Tak ketinggalan makanan cemilan dan minuman. Mantep guys…..
Sekitar pukul enam, adzan maghrib berkumandang. Aktivitas berhenti sejenak. Panggilan Allah menyuruh kami semua menunaika sholat maghrib.
Usai maghrib, kami semua istirahat dan menunggu isya. Akhwat sendiri satu persatu pulang ke rumah masing – masing.
Sesudah shalat isya, kami melanjutkan kegiatan.
“Wah apa kelar nih akh bikin spanduk tempel?”ujar Witnoro.
“ Insya Allah, kelar kok. Kerjakan semampu kita”. Jawabku singkat.
Sekitar pukul delapan, genk grafika (begitu aku menyebutnya sekarang ) datang. Tri, Rusdi dan Rosyid membawa master spanduk.
“Nih akh sudah jadi. Tinggal nt gunting aja” kata Rusdi.
“Alhamdulillah “ jawab kami serempak.
“Tuh kan, tenang aje. Siapa menolong agama Allah, maka Allah pasti akan menolongnya” ujarku.
“Hehe bener juga, mantep deh anak – anak KAPMI Grafika ini” kata Hisyam.

Pekerjaan gunting menggunting ternyata lumayan merepotkan. Gimana gkaak merepotkan, yang digunting banyak banget. Tapi karena dinikmati dan dikerjain bareng – bareng tuh kerjaan gak terasa berat.
“Kira- kira kelar jam berapa ya nih kerjaan” kata Wisnu.
“Nyantai nu, nikmatin aje sih. Ntar juga kelar”jawab Hisyam.
“Yoi,,,akh” balas Wisnu.
Acara gunting master spanduk terus berjalan sampai larut malam. Rasa letih mendekati, badan rasanya meminta jatah istirahat. Wisnu mulai ngantuk, aku juga terserang virus ngantuk. Hisyam, Tri dan Rusdi masih semangat mengerjakan spanduk. Ubai meski ngantuk masih sempet bercanda tawa. Biasa gak dimanan – mana dia sama Tri langganan ngelawak. Kalo urusan humor, mereka dah paling jago.
Sekitar pukul dua malam, master selesai digunting. Agenda berikutnya menyusul. Memasang karton master spanduk untuk ditempelkan ke spanduk.
“wah dah pada teller nih bocah – bocah” kata Hisyam.
Wisnu tak mampu menahan kantuk. Aku juga sebenarnya letih, tapi ngelihat semangat teman – teman. Lanjut deh. Masa kalah ama ngantuk.
Sebelum melanjutkan membaca ceritanya, aku merenung sejenak. Teringat perkataan Syeikh Hasan Al Banna. Bukunya dulu ketika di KAPMI tak sempat aku mempelajari dan membacanya. Tapi sekarang, hatiku paham makna ucapan beliau ini.
“Betapa inginnya kami agar umat ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai
dari pada diri kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai
penebus bagi kehoramatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau
menjadi cita mereka, jika memang itu harga yang harus dibayar. Tiada sesuatu yang
membuat kami bersikap seperti ini selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami, menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami, dan mencabut rasa ingin tidurdari pelupuk mata kami. Betapa berat rasa di hati ketika kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik umat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan.”

Lanjut yuk ceritanya…

Pemasangan spanduk mulai dikerjakan. Waktu menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Rasa kantuk semakin menjadi – jadi menyerang pelupuk mata. Ubai dan Hisyam berusaha menyemangati.
“Ayo semangat teman – teman, bentar lagi kelar kok” kata Hisyam.
Pengerjaan terus berlanjut, satu demi satu huruf dari potongan kertas karton berhasil ditempelkan. Semangat terus dipompa, aku sendiri (dalam hati loh) berharap cepet selesai kok ngantuknya dah sulit ditahan nih.

Akhirnya………

Sekitar jam tiga pagi, pengerjaan spanduk tempel selesai. Kepuasaan menyelimuti hati dan gak pake tunggu waktu lama. Teman – teman langsung ambruk di tempat. Mereka terkapar dan tidur di lantai tempat mengerjakan spanduk.

Semua baru tersadarkan ketika subuh menjelang.
“Bangun akh, udah subuh tuh” kata Hisyam dan Ubai.
Kami semua bangun dan menuju masjid sekolah. Menunaikan perintah Allah untuk shalat subuh.
Selesai subuh, kami menuju lapangan bola. Letaknya tepat samping gedung seminar.
“Enaknya pagi – pagi, abis subuh maen bola”kata Tri sang spesialis gelandang (jangan tambahkan kata an dibelakang ya hehehe afwan Tri )
Keringat bercucuran, akhirnya permainan berhenti pukul setengah tujuh. Lumayan tuh maen bola setengah jam. Nguras keringat dan ngurusin badan. Tul gak?
Jam setengah tujuh akhwat pengurus KAPMI mulai berdatangan dan menyibukkan diri mempersiapkan meja tamu. Print kertas absensi tak ketinggalan.
Kami para ikhwan, menuju agenda bersih – bersih. Gak lama kok, Cuma sebentar palingan lima belas menit.
Jam terus berjalan (wah kabur donk yang ngelihat hehe). Sudah jam delapan, ruangan seminar dipenuhi ikhwan akhwat peserta seminar.
Pembicara sudah datang, Pak Nasrullah Nasution (Bang Acun) dari PAHAM Jakarta.
“Apa kabar bang?. Wah syukron nih dah datang pagi banget. Tapi afwan masih beres – beres nih bang” aku coba mencairkan suasana.
“Oke gak apa santai aja. Ane ngisi jam sembilan kan?” balas beliau.
“Iya bang”jawabku singkat.
Sekitar pukul Sembilan pemasangan spanduk selesai dan ruangan sudah beres. Witnoro dan Hisyam sebagai MC maju ke depan.
“Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh. “ kata Witnoro membuka acara.
Peserta serempak menjawab salam MC. Kedua orang MC semangat membuka acara. Kemudian dilanjutkan tilawah oleh Kamil. Suara syahdu Kamil mengalun merdu (kalah deh duet Anang – Syahrini ama suara ngajinya Kamil . iye gak bos ? hehehe).
Sambutan ketua pelaksana dan ketua KAPTIM berjalan lancar. Situasi cukup aman dan terkendali.
Sesi selanjutnya pemaparan materi oleh Bang Acun. Beliau maju ke depan, nah pas itulah tragedy memilukan terjadi. Ketika beliau semangat- semangatnya menyampaikan materi. Satu persatu huruf spanduk tempel berjatuhan. Entah apa sebabnya, kami hanya mampu menduga – duga. Mungkin karena lemnya kurang rekat.
Hatiku dag dig dug tak karuan. Sembari berharap, gugurnya huruf di spanduk tempel tidak berlanjut.
“Astagfirullah aladzim…”aku tak mampu berkata – kata lagi. Istigfar berkali – kali. Akhwat panitia mulai menitikkan air mata. Kami para ikhwan cukup terkejut melihat runtuhnya huruf spanduk tempel.
“akh gimana nih?” Ubai mulai panik. Aku mengantisipasi keadaan. Berusaha menenangkan panitia. Akhwatnya mulai sms “akh gimana nih, spanduknya kok pada lepas”. Ku jawab singkat “ lah ane juga bingung kok bisa begini. Lemnya kurang kuat kali” jawabku sekenanya.
Menjelang sesi penutup materi. Semua huruf spanduk sudah berguguran total. Tersisa kain spanduk tanpa huruf. Hatiku menjerit. Tak mampu menahan tangis mendalam. Tapi air mata tak dikeluarkan, sebab akan sangat malu di hadapan peserta, teman – teman panitia dan pembicara.
Sungguh pengalaman itu sulit dilupakan, setidaknya sampai sekarang terus dikenang sebagai pengalaman nyata perjuangan di KAPMI.

Jakarta, Jum’at 8 Oktober 2010.

0 komentar

Posting Komentar