ADAB PELAJAR MUSLIM

Diposting oleh KAPMI Daerah Jakarta Selatan | 06.25 | | 0 komentar »

Segala puji bagi Alloh Ta’ala yang memberikan ilmu dengan perantaraan pena. Dia telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak pernah ia ketahui. Aku memuji-Nya Maha Suci Dia dengan pujian ahli syukur. Dan aku menyanjung-Nya dengan segala sifat yang Dia miliki. Sholawat dan salam semoga dicurahkan kepada guru kebajikan bagi ummat manusia yang Alloh Ta’ala utus sebagai rohmat bagi seluruh alam. Beliau membimbing manusia menuju kebenaran dan jalan yang lurus.

Amma Ba’du, mencari ilmu sungguh merupakan salah satu upaya taqorrub (pendekatan diri) yang paling utama bagi hamba kepada Alloh Ta’ala, dan salah satu bentuk ketaatan unggulan yang meninggikan derajat dan meningkatkan kehormatan seorang Muslim di sisi Alloh Ta’ala. Alloh Ta’ala telah Memerintahkan hamba-hamba-Nya agar mempunyai ilmu dan belajar, berfikir dan merenung. Di sisi lain, Dia mewanti-wantikan mereka agar menjauhi kebodohan dan mengikuti hawa-nafsu. Dia juga menerangkan bahwa ilmu yang bermanfaat bagi pengembannya pada hari Kiamat adalah ilmu yang murni diperuntukkan bagi Alloh Ta’ala, untuk mencari ridho-Nya, dengan berpegang adab Islam dalam mencarinya,dan berperangai dengan akhlaq pemimpin manusia, Rosululloh Shollallahu‘Alaihi wa Sallam, yang tidak lain dari Al-Qur’an.

Oleh karena itu perhatian Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap pendidikan adab (tatakrama) bagi shohabatnya tidak kurang dari perhatiannya terhadap pengajaran mereka. Dan perhatiannya terhadap pendidikan dan pensucian jiwa tidak kurang dari perhatiannya terhadap penjelasan hukum-hukum Islam bagi mereka.

Maka ilmu tanpa adab tidak akan bermanfaat. Ilmu yang tidak disertai jiwa yang disucikan akan menghujat pengembannya pada hari Kiamat, di hari tiada berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali bagi orang yang datang menghadap Alloh Ta’ala dengan hati yang sehat.
Dari sini, tampak jelas perhatian besar ulama salaf terhadap pendidikan para pencari ilmu, pensucian jiwa mereka, dan terapi penyakit hati mereka. Mereka semua mengajarkan adab sebelum ilmu, dan memantau kondisi para pelajar ibarat seorang dokter yang tengah mengobati pasien. Ia berusaha mencarikan obat yang mujarab sampai pasiennya sembuh dari sakitnya dan bebas dari penderitaannya.

Tidak mengherankan bila kita menemukan puluhan kitab karya ulama besar dalam hadits, tentang akhlaq dan adab-adab pencari ilmu. Sehingga dari tangan mereka lahir generasi yang diberkahi, mengemban ilmu yang disertai amal dan adab. Mereka menegakkan ilmu dengan sebaik-baiknya. Mereka membangun peradaban Islam yang menjadi kebanggaan ummat. Dan jadilah kharisma dan posisi ulama mengungguli para penguasa. Dan wibawa ilmu dan ulama menjadi ciri yang menonjol di tengah masyarakat Islam.

Kondisi semacam itu berlangsung berabad-abad. Kemudian terjadilah keterpurukan dan kharisma ulama di masyarakat luntur ketika rasa takut kepada Alloh Ta’ala dihati ulama melemah. Mereka berganti haluan dengan mendekati orang-orang yang gandrung dunia dan berebut serpihannya, serta mengejar kedudukannya.

Sekarang ini saat kita melihat tanda-tanda yang jelas untuk kembali kepada agama Alloh Ta’ala masih kita rasakan adanya banyak kalangan pelajar Islam yang meninggalkan adab belajar as-salafush-sholih. Dan kita masih melihat kompetisi meraih ijazah dan gelar akademik demi mencari status sosial dimasyarakat dan untuk memperoleh pekerjaan yang bisa mengalirkan uang. Demikianlah ilmu menjadi sarana bukan tujuan. Para pelajar merasa sudah cukup dengan apa yang mereka pelajari di kampus-kampus, memperoleh ijazah. Dan mayoritas mereka berhenti pembelajarannya setelah lulus (nastaghfirullooh wana’uudzubillaahi min dzaalik).

Lebih parah lagi, mereka mengira bahwa gelar akademis yang mereka capai menjadikan mereka sebagai ulama, dan mengantarkannya ke barisan para fuqoha yang mampu menyelesaikan berbagai masalah. Padahal ilmu dan spesialisasi yang mereka capai tidak melebihi satu bagian kecil dari cabang-cabang disiplin ilmu yang ada.

Karenanya, adalah satu keharusan atas sesama pelajar untuk saling memberi nasehat dan saling mengingatkan agar memiliki rasa takut kepada Alloh Ta’ala. Karena tak ada satu pun dosa yang tersembunyi bagi Alloh Ta’ala. Mereka juga harus selalu berpegang pada adab yang luhur yang tidak boleh ditinggalkan oleh ulama dan pelajar.

Tidak diragukan lagi, bahwa musuh-musuh Islam membuat strategi untuk menjauhkan pemuda Muslim dari ilmu yang bermanfaat, khususnya ilmu syari’at yang menjadi kunci kehidupan, kebangkitan, dan kemajuan ummat. Mereka dengan penuh ambisi menyita waktu pemuda Muslim dengan berbagai kegiatan yang menggiurkan. Memang tidak ada yang membuat sesuatu lebih membuat mereka marah daripada mereka melihat semangat putra-putra kaum Muslimin dalam mencari ilmu dan berpegang teguh dengan adab pelajar Islam.

Saudara pelajar, buatlah mereka kewalahan dan menyerah, dengan cara kembali kepada agama yang benar dalam bentuk ilmu, amal, dan akhlaq.
Penyair berkata:

إِذَا شِئْتَأَنْ تُلْقَى عَدُوَّكَ رَاغِمًا وَ تَقْتُلَهُ غَمًّا وَتَحْرُقَةُ هَمًّا
فَرُمْلِلْعُلَا وَزْدَدْ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّهُ مَنِ زْدَادَ عِلْمًا زَادَ حَاسِدُهُ غَمًّا

Jika engkau ingin mendapati musuhmu dalam keadaan tunduk
Terbunuh dalam keadaan menderita
Dan terbakar dalam keadaan duka
Maka raihlah kemuliaan dan tambahlah ilmu
Karena orang yang bertambah ilmunya akan membuat pendengkinya semakin menderita.



Di akhir muqoddimah ini, akan saya kemukakan kepada pembaca beberapa adab asasi yang saya bahas dalam buku ini, yaitu sebagai berikut:
1. Ikhlas.
2. Beramal dengan ilmu dan menjauhi ma’shiat.
3. Rendah hati.
4. Menghormati ulama dan majlis ilmu.
5. Sabar dalam menuntut ilmu.
6. Berlomba dalam mencari ilmu.
7. Jujur dan amanah.
8. Menyebarkan ilmu dan mengajarkannya.
9. Zuhud terhadap dunia.
10. Menjaga waktu dan memanfaatkannya.
11. Menelaah ulang ilmu agar tidak lupa.
12. Sopan dan rasa malu.
13. Persahabatan yang baik.

Adab-adab ini adalah senjata yang harus selalu disandang dan dijaga oleh setiap pencari ilmu syari’at, supaya ilmunya membuahkan tazkiyatun-nafs (pensucian jiwa), sikap istiqomah dalam tindakan, dan respon positif dari masyarakat. Maka pelajar Islam yang paling berkepentingan dengan akhlaq dan adab ini adalah Ahlul Qur’an. Mereka adalah keluarga Alloh Ta’ala dan orang-orang pilihan-Nya. Mereka orang-orang mulia bagi umat ini selama mereka berakhlaq dengan akhlaq Al-Qur’an dan berpegang teguh dengan petunjuknya.

Hanya kepada Alloh Ta'ala kita memohon agar kita termasuk orang-orang yang mendengarkan ucapan yang benar dan mengikutinya dengan sebaik-baiknya. Dan semoga Alloh Ta'ala memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan amal sholih. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah dan Maha Mulia. (Bersambung, insya Alloh).

0 komentar

Posting Komentar